Selasa, 08 Desember 2015

Jemari itu milik kekasihku

Sayup-sayup terdengar suara deru ombak dari balkon cotage. Mataku sulit sekali diajak bekerjasama untuk melihat indahnya ombak saling bercumbu.
Empat tahun lalu aku ada disini bersama orang yang paling kucintai, saat itu aku masih mengenyam indahnya bangku kuliah. Dia yang amat kucintai adalah mahasiswa junior di kampusku, tak banyak pertemuan yang kualami sebelum aku tau kapan dia mendapatkan nomer handphoneku.
Lucu sekali, setiap hari aku dibuatnya penasaran dengan pesan singkat darinya, seperti mata-mata namun aku sungguh menikmatinya tidak sama sekali merasa tak terganggu. Ini berlanjut sampai akhirnya dia memberanikan diri datang kerumahku. Wuih gantlenya dia berani memenuhi tantangan dariku.
Akhirnya dalam acara makrab fakultas di kepulauan seribu empat tahun lalu, aku yang berstatus mahasiswa tingkat akhir dan salah satu dari pantia acara tersebut.  "ka besok minta waktunya ngisi acara di balkon ya untuk mahasiswinya". Kesal aku dibuatnya, aku dateng kesini kan mau numpang liburan kesalku dalam hati.
"Ka sebelum mulai maaf tolong ke arah jembatan dulu ya, ada briefing dari ketua panitia" huh bikin kerjaan aja sih batinku kesal. Kupasang earphone yang sejak tadi menemaniku dengan alunan alunan suara khas Adele. Kutelusuri jalan setapak ini, satu demi satu telah dipasang petunjuk arah. Gesit sekaku angkatan ini kerjanya. Di petunjuk arah terakhir ada seorang mahasiswa yan memberikan ku sepucuk kertas "selangkah lagi kami tunggu di ujung jembatan" apa-apaan sih ini kok jadi aku yang seperti mahasiswa baru gini. 
Indah sungguh menakjubkan ada delapan belas balon gas berpadu dengan birunya air laut yang siap digunting mungkin untuk pelepasan nanti.
"Ka..." Suara yang sangat kuhafal ingin sekali kucabik-cabik dia karena telah membohongiku. "gimana bagus gak? Sorry ya Nya gue udah bikin lo nunggu lama disini, gue cuma mau nunjukin satu hal sama lo, lo liat mereka yang sedang berdiri disana sambil membawa karton" seraya menunjuk teman-teman panita.
"Anya i love you" sungguh terharuku dibuatnya. "Udah lama gue mau bilang ini, gak peduli lo kaka kelas gue atau siapa pun. Gue mau lo jadi pacar gue nya, bahkan lebih". Hari itu juga ditanggal 18 Mei sama dengan jumlah balon yang ada resmi sebagai tanggal jadian kami.
Pipiku bergetar seperti ada gempa bumi, membuat mataku terbuka yang sejak tadi menikmati nostalgiaku empat tahun lalu disini. "Bangun, nih sarapannya yang" tak pernah hilang sisi romantisnya sampai sekarang. Kami duduk memandangi deburan ombak yang saling berkerjaran dari balkon kamar kami, "dulu di jembatan itu ada cowok paling bahagia karena ngedapetin hati seorang cewe yang dia cintai, tapi sekarang di balkon ini ada lelaki paling bahagia sedang duduk menikmati indahnya hidup bersama seorang wanita hebat". Kupandangi wajahnya yang sangat berbinar itu, kemudian aku genggam jemarinya dan ku kecup pipi lelaki itu. Jemari yang indah itu menggam erat tubuhku, jemari yang indah itu adalah kekasih hidupku yang kini menjadi imam dalam keluarga kecil kami. "I love you Fatan...".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar