Kamis, 03 Desember 2015

Lelaki berpunggung indah itu ...

Di senja sebuah ruang kelas, mentari hendak malambaikan tangannya. Aku masih dengan setia menunggu waktu berputar mebentuk satu garis lurus. Tepat jam 18.00 bapak dosen mengkahiri matakuliah ini, aku yang duduk berada di barisan nomer 3 hanya bisa memandang sebuah punggung berlapis flanel biru dongker.
Itu rutinitas ku setiap hari kamis, hari dimana kuliah umum diadakan. Aku hanya mampu memandang gerak geriknya dari sudut kelas, Spike Hair Style merupakan Hair Style yang dimilikinya, terlihat cocok dengan tekstur bentuk wajah oval yang dimilikinya.
Sudah tiga bulan aku hanya mampu memandangi punggungnya yang indah, berbentuk segitiga kokoh. Pas sekali dengan standarisasi tubuh laki-laki idaman. Tinggi dan berat badannya mungkin juga termasuk kategori ideal. Benar-benar membuatku tak konsen mengikuti matakuliah ini.
Sesekali aku tertangkap basah sedang memandangi wajahnya, senyum tipis yang ia berikan membuatku meleleh bak coklat.
Hay tuan, kapan aku bisa berjabat tangan denganmu? khayalan yang terlalu tinggi bagiku. Gayanya yang begitu keren membuat daya tariknya terlihat luar biasa. Aku yakin bukan hanya aku dikelas ini yang menjadikan dia sebagai alasan mengapa aku harus mengikuti matakuliah umum ini. Tak perduli dengan nilaiku saat uas nanti, yang terpenting setiap minggu aku dapat melihat punggung itu.
Hari ini di loby fakultas sangat ramai, entahlah apa yang terjadi, yang aku tau hari ini adalah hari Kamis dimana matakuliah umum yang sangat kunanti setiap minggunya. Sudah sepuluh menit berlalu matakuliah ini dimulai, sayangnya yang membuatku semangat tak terlihat, mataku terus tertuju pada daun pintu berwarna coklat, lima menit berlalu.... ah sudahlah mungkin dia tidak datang hari ini. 
"Siang pak... saya masih boleh ikut matakuliah ini?" suaranya terdengar dari balik pintu. Bibirku mendadak melebar, malu rasanya saat ia duduk dibangku kosong sebelahku, bagaimana tidak aku yang biasanya hanya dapat memandangi punggungnya kini ia duduk disebelahku.
Aroma tubuhnya saat ia membuka balutan jaket menambah nilai plus, wanginya berlarian di depan hidungku sungguh ini adalah godaan terbesar bagiku. "Re... boleh pinjam catatan kisi-kisi buat uasnya?" dia membuka pembicaraan, sedangkan hatiku kalang kabut dibuatnya. Diulurkan tangan yang selalu dihiasi jam tangan "Boleh..." jawabku.
Sore itu lepas matakuliah umum, aku melihatnya di tempat parkir dikenakannya jaket berwarna biru dongker, serta kacamata jenis wayfarer sunglasses dan helm ditangannya. Tak lama kemudian seorang wanita naik dibalik punggung lelaki itu. Aku hanya mampu berkata dalam hati "Andai wanita yang sedang tersenyum bahagia memeluk punggung itu adalah aku" biarlah rasa ini tetap tersimpan rapih dilemari hati ini.

-Aku sang pengagum punggung indahmu-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar