Rabu, 02 Desember 2015

Aku, kau dan perih manisnya cinta dalam persahabatan

Rasanya baru saja aku mengecup manisnya madu dari dalam bunga tersebut, rasa persahabatan yang begitu kental diantara kita. Awalnya kau begitu amat dingin terhadap banyak orang bagaikan sebuah es di kutub utara yang hanya ditemani seekor burung pinguin. Dengan tembok sebagai batas nafas, dalam satu atap yang sama hari demi hari pun akhirnya kita saling bertatapan. "Kuliah jam berapa? boleh bareng ?" kalimat panjang yang pertama kali ku dengar dari bibir tipis mu.
Sebuah rumah kos putra dan putri dengan warna merah muda menjadi saksi awal perkenalan kita. Tentang kamu yang sehari-hari hanya bermain dengan sebuah layar berkecepatan 14.4 Mbps akhirnya hanya aku yang bisa bersaing dengan teman sehari-hari mu itu. "Akhirnya jagoan keluar kandang!" cela aku saat menemani dia makan siang disebuah kantin kampus. Tak banyak mata yang memandang kami, kami bukan termasuk mahasiswa/i famous di semester satu ini, hanya mahasiswa baru yang kerjaannya kuliah-pulang-kuliah-pulang(kupu-kupu)
Persahabatan kami semakin erat, tak mudah menjaga dan mengatur tempo rasa persahabatan ini agar tak menjadi rasa sayang kepada lawan jenis. Tahun berganti tahun ku coba mendekatkan diri kepada seseorang mahasiswa diatas ku, seorang kaka senior yang sering datang berkunjung ke rumah kos kami. Dengan alibi ingin mempunyai seseorang yang spesial akhirnya aku menjalin kasih dengannya. Kini aku bukan lagi menjadi mahasiswa KUPU-KUPU, banyak kegiatan yang menyertakan nama ku, sungguh dari dalam lubuk hati terdalam aku rindu dia yang kubiarkan sendiri karena aku sudah memiliki kekasih.
Saat ibu dosen menutup laptopnya kuberanikan diri meninggalkan kelas terlebih dahulu, langkah kaki ku menuju sebuah gedung dimana sahabatku sedang berada. Seolah rasa malu ku hilang, ku hampiri sekelompok mahasiswa, "curut..." semua mata tertuju pada ku. Curut adalah nama panggilan ku untuknya begitu pula dia. Dengan celana sobek dan flanel coklat dia menghampiri ku, rambut yang sudah tersisir rapih dengan pomad menjadi acak-acakan karena ulahku, tak sedikitpun ada balasan dari dirinya, sebuah pelukan tiba-tiba menyangsrang ditubuhku, "Gue kangen ..." ucapnya.
Kami masih sanggup mengontrol perasaan takut kehilangan tetap menjadi sebuah persahabatan, teman seangkatan, adik kelas bahkan senior pun mengira aku mengkhianati pacarku. Hari-hari yang kulalui lebih banyak tercurah untuknya bukan pacarku. Sampai satu waktu tiba akhinya keluar kalimat yang membuat ku ingin terjun bebas dan berteriak sekencang-kencangnya, "Gue suka sama cewek nih, tapi dia mantannya temen gue".
Egois memang, rasanya tak rela dia mulai menyukai seorang wanita lain sedangkan diriku juga memiliki kekasih. Mungkin seperti ini yang dia rasakan saat aku memiliki pacar, cemburu.... ya itu yang kurasakan saat ia menceritakan apa yang dia suka dari wanita itu. Perubahan drastis terjadi pada diriku, bodohnya aku yang tidak bisa lagi mengontrol rasa cemburu ku yang mengakibatkan fatal pada hubungan pribadiku. Aku ditinggalkan kekasihku dengan alasan rasa yang ada dihatiku bukan untuknya. Situasi yang aneh, tak sedikit pun rasa menyesal setelah hubunganku berakhir dengan kaka seniorku, seperti biasa hanya curut yang bisa mengalahkan segalanya.
"Gue udah tau dari lama perasaan lo ke gue, tapi gimana? Coba di netralin ya demi persahabatan kita" kalimatnya bikin jantungku berhenti berdegub tapi membuat ku tenang karena sentuhan lembut tangannya yang mengelus kepala ku. Kini ponselku dipenuhi dengan chat dari dia, semua sosial mediaku penuh dengan dia. Tak seperti orang yang patah hati karena berpisah dari pacarnya, justru sikap ku sangat bahagia, yaaaaa aku bahagia karena dia, tak peduli dengan perasaannya ke wanita lain.
Semakin hari sikapnya berbeda, semakin manis, semakin romantis, dan semakin membuatku nyaman. Aku jatuh cinta padanya, pada sahabatku. Sikap yang ditunjukannya tak seperti seorang sahabat, dia terlihat seperti pacarku bagaimana tidak setiap ke kampus aku bersamanya, saat dia mencurahkan hobi barunya dengan teman-temannya pun aku turut disertakan padahal aku hanya duduk dipinggir lapangan sambil memegang anduk dan sebotol air mineral untuknya. "Cewenya .... " bukan, selaku sebelum temannya melanjutkan perkataannya. Aku bukan seorang wanita yang "tukang aku". Namun diluar dugaanku sikapnya semakin menjadi-jadi, setelah ia ganti baju kemudian tanganku ditarik dan dirangkul diajak pulang "yuk apaan si malah ngobrol disini".
Akhirnya kuberanikan diri untuk menanyakan kepastian dari sikapnya. "Gue juga gak tau, setelah kejadian kemarin malah jadi gue yang gak bisa ngontrol perasaan gue, gue jd takut kehilangan lo" akhirnya kita menyatakan untuk berpacaran. Hari-hariku berubah drastis, semangat kuliah ku semakin kuat karena tiap hari ku selalu dengan dia. "Gue berhasil dapetin cowo yg gue sayang" ungkap ku dalam hati dengan bangga. Dia curut yang siap melumat hatiku bak keju untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuhnya. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar